Wanita-wanita

Beberapa minggu ini, entah ‘sengaja’ atau ‘tidak sengaja’ saya menonton beberapa film tentang perang dunia ke II. Mulai dari ‘Red Thin Line’, ‘Letter from Iwo Jima’, ‘Band of Brothers’, ‘Valkyrie’, dan ‘Apocalypse-TV series of National Geographics’.

Ada yang sama pada film-film tersebut yang membuat hati saya teriris. Laki-laki dan wanita… Tokoh laki-laki pada film-film bertema kekerasan tersebut terlihat sibuk dengan ‘idealisme’, ‘kekerasan’, dan ‘humanisme yang dipaksakan’. Wanita pada film-film tersebut digambarkan sebagai ‘korban’ pada semua sisinya.

Saat sang suami harus pergi berperang karena alasan ‘idealisme’ dan ‘tugas negara’, sang wanita tampak mengantarkannya sambil memeluk anak-anak mereka sambil melambaikan saputangan diiringi tetes air mata. Mungkin air mata itu berarti, “kapan dia pulang…? Akankah?” dan “bagaimana saya membesarkan anak-anak ini?” Dua pertanyaan yang sulit dijawab dalam kondisi normal,…apa lagi saat perang?

Belum lagi saat agresi tentara musuh tiba, wanita harus lari sekuat tenaga menyelamatkan anak-anak mereka. Pun mereka harus berjuang menjaga kehormatan dan nyawa mereka dari laki-laki yang telah berubah menjadi srigala. Pada saat-saat seperti ini, laki-laki harus malu. Wanita-wanita itu bisa berubah menjadi apapun. Mereka bisa meraung dan mencakar seperti singa untuk kehormatan dan anak-anak mereka. Mereka bisa seperti gajah yang membongkar dinding demi mencari tempat aman. Mereka bisa menjadi malaikat yang lembut memeluk anak-anak mereka saat meriam bertalu satu-satu. Dan semua hal-hal lain yang kami, laki-laki, tidak akan bisa –terpikirpun tidak.

Sudah cukup? Belum! Siapakah yang menjalankan mesin-mesin perang itu? Tentu saja wanita! Merekalah yang dipekerjakan di pabrik-pabrik pesawat, instalasi senjata, kantor telekomunikasi, dan ruang-ruang komando. Mereka yang menjaga agar perang tetap berjalan seperti keinginan rekan ‘lelaki’ mereka. Tanpa mereka, tidak ada pesawat yang terbang, tidak ada peluru yang meletus, tidak ada pistol menyalak, tidak ada radar, tanpa radio telekomunikasi. Semua mati. Karena meski di desain para lelaki, merekalah yang ditugasi membuatnya.

Penat seharian bekerja di pabrik senjata, pada senja hari mereka langsung tidur… Itu pekerjaan kaum lelaki! Tapi tidak untuk wanita! Sebelum pulang, mereka mencari bahan makanan. Sesampai dirumah, sambil menggendong buah hatinya, mereka memasak. lalu menyuapi, lalu menidurkanšŸ˜¦ Baru mereka istirahat…kalau bisa….bila sempat. Bila pagi keburu tiba, sekali lagi mereka harus memasak, menyuapi, memandikan, mengantar sekolah, baru berangkat kerja….tanpa istirahat, terus berulang…

Dan itu masih belum selesai. Bila perang usai dan puing-puing berserakan. Tidak ada makanan, tanpa uang, tiada suami, dan cuma ada sedikit pakaian, merekalah yang bekerja keras memelihara anak-anak. Bidadari-bidadari kecil penerus bangsa yang kelak akan kembali membangun negara. Tunas-tunas muda itu aman di jaga oleh ibu-ibu mereka yang lembut dan penuh kasih, meski ditengah keterbatasan. Setelah negara-negara besar hancur diremuk perang, siapa yang berjasa membangun kembali? Wanita-wanita…. Siapa dibalik Jerman, Jepang, Amerika, dan semua negara yang saat itu luluh lantak tapi kini menjadi negara maju? Ibu-ibu….merekalah yang sabar menahan perih demi tetap berjalannya kehidupan manusia dan kemanusiaan.

Untuk itulah, tulisan ini kupersembahkan untuk semua wanita yang telah purna dan masih berkenan menjalankan tugas dan tradisi agung yang diembankan Rabb di pundaknya. Untuk Hawa ibu semua umat manusia. Untuk Maria yang tabah membesarkan lelaki mulia meski penuh dihujani fitnah dan prasangka. Untuk Khodijah ra. yang ridlo menahan perih hidup karena bersuamikan utusan Illahi. Untuk Simbok yang tabah membesarkan saya yang nakal dan aneh. Untuk Emak dan Simbah putri yang baik dan sholihah. Untuk istriku yang kecil tapi sanggup menggendong sendiri sepasang anak kembar sambil menuntun anak pertama kami dengan menggendong tas belanjaan dan meniti tangga empat lantai saat saya tinggal tugas ke luar negeri. Untuk semua wanita lain yang ada di muka bumi. Sungguh beruntung saya diciptakan sebagai lelaki. Karena aku tidak akan sanggup menjadi wanita seperti kalian. Salam hormatku untuk kalian. Terimakasih telah tetap berkenan menjaga roda waktu dan siklus kehidupan tetap berputar. Semoga Alloh meridloi kalian, amin.

Never Grow Up

Kata orang “a boy never grows up” doesn’t he? He does indeed.

Bosan mendesain PCB (printed circuit board–red), saya buka-buka simpanan album lama yang berserak di hardisk. Tak sengaja, saya temukan Kitaro dari album Kojiki. Album ini saya beli bertahun lalu saat saya masih SMP. Saat itu, saya terpesona dengan lagu berjudul “Matsuri” yang dinamis. Namun, seiring perjalanan waktu, saat ini saya lebih menyukai “koi” yang tenang dan lembut.

“Koi”….begitu membuai, penuh warna, dan menghanyutkan. Mendengarnya setelah bertahun terlupakan, mebuat saya tertarik kembali ke masa silam. Membawa segenap jiwa kembali ke saat lampau. Mengingatkan isi hati saya di waktu lalu. Apa yang dimimpikan, ditakuti, diinginkan, dibenci, diharapkan, dihindari, dicintai…semua kembali. Pun dengan bagaimana saya bersikap, bagaimana saya menghindar, mengapa saya bersembunyi, mengapa saya marah, kerja keras, geram, gelisah, dan banyak yang lain. Semua seperti diingatkan, semua kembali dibuka.

“Koi” yang mengalun ditelinga dan jiwa saya saat ini membuat saya tersadar bahwa sebagai manusia saya tidak pernah dewasa. Saya yang sekarang masih saya yang dulu. Saya yang sama seperti saya saat pertama kali membeli lagu ini berpuluh tahun lalu. Masih membenci hal yang sama, menghindari yang sama, berpikir dengan cara yang sama, tertawa karena hal yang sama, dan segala yang lain yang hampir sama. Pengalaman hidup dan pengetahuan baru tidak banyak mengubah saya. Semua cuma mengalir disekitar hidup saya tanpa tersisa.

Ada yang salah, ada yang terlupa, ada yang dilewatkan selama 30 tahun ini…..

Giliran Siapa?

Menghitung hari, satu-satu, menjelang Ramadhan. Seperti biasa, ada yang berubah menjelan bulan sakral ini. Seolah alam raya pun tahu bahwa tamu agung, penghulu segala bulan, akan hadir. Mereka merintih menanti kedatangannya, berharap diperkenankan hidup didalam bulan itu, dan diperkenankan sujud dalam naungan selimutnya yang penuh rahmat.

Sekedar ilmu “titen”, menjelang Ramadhan, biasanya alam menjadi lembut. Bila Ramadhan datang saat musim hujan, mendung akan sedikit berkurang hingga cuaca sedikit nyaman. Bila Dia datang saat musim panas, awan mendung akan banyak berarak memberi kesejukan. Hmmmm….seolah alam ingin membantu meringankan beban manusia yang harus beribadah lebih keras di Bulan itu.

Sekedar ilmu “titen” yang lain, menjelang Ramadhan, biasanya banyak yang harus “pulang”. Mereka orang-orang yang sudah tidak diperkenankan bertemu dengan duta agung pembawa rahmat. Satu-satu dijemput menghadap. Satu-satu harus kembali. Semakin dekat bulan itu, biasanya memang jadi semakin sering harus melayat.

Saat tanda-tanda kehadiran Ramadhan semakin jelas, sering terbersit dalam pikiran saya “Giliran siapa kali ini? Siapa yang harus pulang duluan?” Hmmm….semua yang hidup pasti mati kan? Semoga yang harus pulang, diperkenankan Khusnul Khotimah. Dan semoga yang masih diperkenankan menikmati Ramadhan, diberikan kesabaran dan ampunan. Bukankah sang Pemilik Ramadhan adalah yang maha bijak dan maha baik? Dia pasti tahu, saat dimana sesuatu harus berakhir, adalah saat yang terbaik bagi yang harus berakhir. ….bukan di waktu yang lain….

Musafir….

Saat masih kuliah di JTE-UGM, looong time ago, saya selalu menyempatkan waktu untuk Sholat Jum’at di Masjid Mardliyah, sebelah RSUP Dr. Sardjito. Bukan karena fanatik dengan sesuatu, tapi sekedar melepas rindu mendengarkan ceramah Pak Mufti. He..he..he.. Ustadz yang satu ini memang memiliki tempat dalam hati saya. Ceramahnya yang membumi membuat Khutbah Jum’at menjadi tidak menjemukan. Yang beliau sampaikan biasanya tentang kehidupan sehari-hari. Pun bahasanya sederhana.

Suatu hari, beliau menyampaikan sebuah pesan “... hiduplah kalian seperti musafir…“.

Mmmm…. maksudnya apa nih? Lamaaa sekali saya berpikir tentang pesan yang satu ini. “Ada apa dengan Musafir? Si pejalan?” Dan selama itu pula saya tidak pernah menemukan maksudĀ  beliau. Belum ada padanan kejadian yang cocok dengan pesan beliau yang satu ini, “…hiduplah kalian seperti musafir...”.

Ketertarikan saya kepada sufisme yang sejuk, pernah mengantarkan hipotesis saya tentang maksud kalimat “…hiduplah kalian seperti musafir…” pada sebuah ide yang menyatakan bahwa “kita semua adalah pejalan…suluk…salik…” yang sering disampaikan dalam buku-buku sufisme. Mungkin iya,…tapi mungkin bukan itu yang beliau maksud.

Dan masih lamaaaa lagi waktu berlalu. Di sela-sela kesibukan, saya masih teringat pesan “…hiduplah kalian seperti musafir…”. Di selipan-selipan lamunan kadang masih terngiang, “…hiduplah kalian seperti musafir…”. Ditengah lautan persamaan dan percobaan elektronika, kalimat “…hiduplah kalian seperti musafir…” masih sering muncul. Pun ditengah kehidupan ekonomi yang semakin membaik untuk keluarga saya, kata”…hiduplah kalian seperti musafir…” tidak pernah saya lupakan.

Suatu hari, saya duduk bersama istri yang tengah hamil tua mengandung anak kembar, ditemani anak pertama saya yang tengah bermain game komputer. Saya melihat sekeliling dan menilai keadaan keluarga. Kami tinggal di sebuah rumah kontrakan “rumah sangat sederhana sangat sulit sekali selonjor” di kota fukuoka-Jepang. Tidak punya kasur! Kami tidur diatas tatami (tikar mendong) dilapisi futon (alas tidur seperti selimut tebal) pun cuma pemberian teman. Tidak punya meja-almari-radio, cuma ada sebuah TV 14 in, yang juga pemberian teman, sebagai hiburan. Alat makan cuma 4 buah piring, 4 buah sendok, 4 buah gelas, 2 buah pisau, 1 buah telenan yang dibeli di toko 100 yen (toko paling murah di Jepang).Ā  Kemana-mana naik Bus atau jalan kaki atau naik sepeda dan tidak pernah merasa perlu membeli mobil. Tidak ada dalam sejarah beli baju baru karena selalu beli bekas. Apa-apa selalu dibeli dengan kata kunci “yang paling murah!”

Saya mesem sendiri…. mungkin inilah yang dimaksud dengan “…hiduplah kalian seperti musafir…”. Kenapa kami memilih hidup seperti itu? Apakah begitu miskinnya seorang pelajar di Jepang yang hidup hanya mengandalkan beasiswa? Mungkin memang miskin…tapi untuk hidup sedikit lebih mewah toh seharusnya tidak terlalu sulit. Satu-satunya alasan adalah “kami ini cuma musafir…nanti harus pulang ke tempat asal kami”. Untuk apa beli lemari-meja-kursi? Toh tahun depan insyaAlloh pulang. Untuk apa beli tape-radio-sound system mahal kalau toh akhirnya, balik ke Yogya? Untuk apa beli mobil kalau toh dua smester lali musti dibuang ke Junk-yard? Untuk apa beli baju baru kalau dua belas bulan lagi musti dimasukkan ke moeru-gomi (sampah yang bisa terbakar)?

Mungkin inilah yang dimaksud dengan “…hiduplah kalian seperti musafir…”. Kalau saja kesadaran ini bisa terus dihidupkan hingga nanti saat pulang ke Indonesia. Kalau saja nanti sepulang di kampung halaman, saya tetap bisa insyaf bahwa sesungguhnya “…hidup ini juga cuma sekedip perjalanan…” Kalau kata orang jawa “sekedar mampir ngumbe”. Dengan kearifan itu, perlukah saya membangun istana dan mengumpulkan harta? Tidak! Karena kita cuma musafir.

Singa-singa

Talking about China means telling a loooooong journey of history…isn’t it? Bagaimana tidak, kelompok masyarakat ini (bukan hanya yang tinggal di People Republic of China, tapi semua yang memiliki keterikatan historis dan budaya dengan nya) telah beradab sejak 5000 tahun yang lalu. Wow….5000 booooo.

Dengan perantara takdir, akhirnya saya pun berkesempatan menginjakkan kaki di salah dua kota di China. Shanghai dan Wuhan. But, this story will not be about the infamous, crowded, and bustling Shanghai. Consisten dengan “diri saya” yang sangat membenci kota besar, Wuhan menjadi bagian yang sangat menarik untuk diceritakan.

Wuhan termasuk kota sedang, tidak seramai dan semegah Shanghai dan Beijing. Kota ini terletak di dekat sebuah danau terbesar di China (kata pemandu wisata) yang bernama East Lake. Pun kota ini terletak di sebelah sungai Yang Tse yang sangat legendaris dalam sejarah china. Sampai-sampai sungai ini selalu ada dalam cerita-cerita silat dan kungfu, buku the Three Kingdoms, dongeng, mitos, sejarah, bahkan Film. Termasuk The Red Cliff yang baru saja saya tonton.

Ada yang mengusik hati saya saat berkunjung ke East Lake, yaitu….sepasang patung Singa ….

singa singa2

Kenapa dengan mereka, sepasang singa itu? Singa, si raja rimba, adalah hewan yang penting dalam mitologi China. Posisinya no 2 seteleh Naga alias Shen-Long. Si Singa selalu digunakan sebagai simbol atas kekuatan. Indeed, it is the intention of the maker of those lions….to make a symbolization about power!

Singa yang kanan adalah singa Jantan. Ini tampak dari tampilannya yang lebih maskulin dengan surai yang lebih panjang dan lebar. Singa yang kiri melambangkan singa betina dengan kesan-kesan feminin yang lebih menonjol.

Anyway,Ā  mari kita perhatikan pada apa yang ada dalam genggaman masing-masing singa itu. Si singa jantan menggenggam bola dunia sedangkan si singa betina memeluk seekor anak singa! What a great symbolization. Sungguh cara yang unik dan menyentuh hati untuk mengajarkan peran dan etika. Sekilas, saya menangkap ide bahwa “Singa Jantan bisa menggenggam dunia karena Singa Betina bertugas merawat si anak singa”.

Ajaran ini, tentu bermakna berbeda bila dipandang dari kaca mata barat yang selalu penuh pertentangan. Tapi, bila dilihat dari sudut pandang budaya china yang berdasarkan harmoni, tentulah sangat indah dan menyentuh. Berdasarkan konsep Yin-Yang, Singa Jantan yang menggenggam dunia tidak memiliki kedudukan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan Singa Betina yang berperan mendidik dan memelihara si anak singa. Di sini, kalimat “cuma memelihara anak” tidak bisa digunakan. Dengan kaca mata harmoni, simbolisasi ini terbaca sebagai “Si Jantan memerankan perannya dan Si Betina memerankan perannya”. Seperti cakra yin-yang yang dengan bijak berkata, si maskulin ada karena si feminin. Atau si kuat ada karena si lemah.Singa Betina tidak bisa dikatakan “lebih tidak penting” dibandingkan dengan Singa Jantan. Mereka cuma berperan seperti yang seharusnya.

Sudah takdir bahwa Jantan berarti Maskulin dan keras sedangkan Betina berarti feminin dan lembut. Saya membayangkan, bila peran mereka dipertukarkan. Si Jantan yang maskulin dan keras memelihara anak sedangkan si betina yang lembut menggenggam dunia. Some how, at certain momment and for only certain period it might work just fine. But will it be sustainable?

Anak yang masih belajar, rentan dan cenderung membuat kesalahan. Bila mereka diasuh oleh si Jantan yang keras, tentulah mereka akan cenderung menerima deraan. Padahal, hingga dewasa, si anak akan terus dan terus membuat kesalahan. Ini artinya, si anak akan terus dan terus menerima deraan. Sebagai hasilnya, kelak ketika dewasa, mereka tidak akan menjadi Seekor Singa yang utuh. Setidaknya, akan ada luka bahkan cacat disekujur jiwa dan raga mereka. Bila si anak adalah singa jantan, tentulah mereka kelak menjadi singa jantan yang cacat. Pun bila si anak betina. Pertanyaannya, mungkinkan seekor Singa Jantan yang cacat menggenggam dunia? Atau, mungkinkah seekor Singa Betina yang cacat melahirkan anak-anak singa yang hebat? You may know the answer.

So, Si Jantan menggenggam dunia, memang sudah seharusnya demikian. Si betina memeluk anak, pun sudah seharusnya demikian. Demi apa? Demi “kesingaan” mereka. Dengan peran itu, si Jantan menjadi singa jantan dalam makna yang sesungguhnya,Ā  pun si betina menjadi singa betina yang sebenarnya. Mereka adalah “Singa-Singa” dengan peran mereka masing-masing. Demi kelangsungan “kesingaan” mereka. Keengganan menjalankan peran mereka seperti yang telah ditentukan akan menurunkan derajad “kesingaan” mereka. Jijik dengan peran mereka masing-masing akan membuat kelompok singa, suatu saat nanti, akan menjadi kelompok kambing. Bukan lagi kelas kholifah……tapi kelas budak. Siapa yang menjadikan mereka budak……mereka sendiri……….